Selasa, 29 Mei 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR

A. DEFINISI fraktur adalah pemisahan atau robekan pada kontinuitas tulang yang terjadi karena adanya tekanan yang berlebihan pada tulang dan tulang tidak mampu untuk mrnahannya. B. ETIOLOGI Etiologi Fraktur ada dua jenis, yaitu : 1. Trauma langsung, yaitu : fraktur yang terjadi karena mendapat rudapaksa, misalnya benturan atau pukulan yang mengakibatkan patah tulang. 2. Trauma tidak langsung, yaitu : bila fraktur terjadi, bagian tulang mendapat rudapaksa dan mengakibatkan fraktur lain disekitar bagian yang mendapat rudapaksa tersebut dan juga karena penyakit primer seperti osteoporosis dan osteosarkoma. C. PATOFISIOLOGI Trauma Penyakit Sekunder Stress/tekanan berulang Fraktur Fraktur tertutup Fraktur terbuka Kerusakan kanalis havers dan Robekan pada kulit dan Jaringan lunak diarea fraktur pembuluh darah Terbentuknya bekuan darah dan Perdarahan Benang-benang fibrin Hematoma Syok hipovolemik Membentuk jaringan nekrotik Hipotensi Respon inflamasi Penurunan cardiac Output Fibroblast dan kapiler-kapiler Hipoksia baru tumbuh dan membentuk Metabolisme anaerob jaringan granulasi Bagian ujung periosteum, endosteum Meningkatkan asam bagian sumsum tulang mensuplai esteoblast laktat Proliferasi osteoblast yaitu fibrokartilago, Katilago hialin dan dari penunjang fibrosa Membentik fiber-fiber kartilago dan matriks tulang yang berhubungan dengan dua sisi Fragmen tulang yang rusak Osteogenesis dengan cepat Terbentuk jaringan granulasi Dari etiologi yang dapat menyebabkan fraktur diatas, fraktur dibagi menjadoi dua yaitu fraktur tertutup dan frkatur terbuka. Pada fraktur tertutup akan terjadi kerusakan pada kanalis havers dan jaringan lunak diarea fraktur, akibat kerusakan jaringan tersebut akan terbentuk bekuan darah dan benang-benang fibrin serta hematoma yang akan membentuk jaringan nekrosis. Maka terjadilah respon informasi informasi fibroblast dan kapiler-kapiler baru tumbuh dan membentuk jaringan granulasi. Pada bagian ujung periosteum-periosteum, endeosteum dan sumsum tulang akan mensuplai osteoblast, kemudian osteoblast berproliferasi membentuk fibrokartilago, kartilago hialin dan jaringan penunjang fibrosa. Selanjutnya akan dibentuk fiber-fiber kartilago dan matriks tulang yang menghubungkan dua sisi fragmen tulang yang rusak, sehingga terjadi osteogenesis dengan cepat sampai terbentuknya jaringan granulasi. Sedangkan pada fraktur terbuka terjadi robekan pada kulit dan pembuluh darah, maka terjadilah perdarahan, darah akan banyak keluar dari ekstra vaskuler dan terjadilah syok hipovolemik, yang ditandai dengan penurunan tekanan darah atau hipotensi syok hipovolemik juga dapt menyebabkan cardiac output menurun dan terjadilah hipoksia. Karena hipoksia inilah respon tubuh akan membentuk metabolisme an aerob adalah asam laktat, maka bila terjadi metabolisme an aerob maka asam laktat dalam tubuh akan meningkat. D. KLASIFIKASI FRAKTUR Fraktur di klasifikasikan sebagai berikut : 1) Fraktur tertutup Merupakan fraktur tanpa komplikasi dengan kulit tetap utuh disekitar fraktur tidak menonjol keluar dari kulit. 2) Fraktur terbuka Pada tipe ini, terdapat kerusakan kulit sekitar fraktur, luka tersebut menghubungkan bagian luar kulit. Pada fraktur terbuka biasanya potensial untuk terjadinya infeksi, luka terbuka ini dibagi menurut gradenya. Grade I : luka bersih, kurang dari 1 Cm. Grade II : luka lebih luas disertai luka memar pada kulit dan otot. Grade III : paling parah dengan perluasan kerusakan jaringan lunak terjadi pula kerusakan pada pembuluh darah dan syaraf. 3) Fraktur komplit Pada fraktur ini garis fraktur menonjol atau melingkari tulang periosteum terganggu sepenuhnya. 4) Fraktur inkomplit Garis fraktur memanjang ditengah tulang, pada keadaan ini tulang tidak terganggu sepenuhnya. 5) Fraktur displaced Fragmen tulang terpisah dari garis fraktur. 6) Fraktur Comminuted Fraktur yang terjadi lebih dari satu garis fraktur, dan fragmen tulang hancur menjadi beberapa bagian (remuk). 7) Fraktur impacted atau fraktur compressi Tulang saling tindih satu dengan yang lainnya. 8) Fraktur Patologis Fraktur yang terjadi karena gangguan pada tulang serta osteoporosis atau tumor. 9) Fraktur greenstick Pada fraktur ini sisi tulang fraktur dan sisi tulang lain bengkak. b. Proses Penyembuhan Tulang 1) Fase formasi hematon (sampai hari ke-5) Pada fase ini area fraktur akan mengalami kerusakan pada kanalis havers dan jaringan lunak, pada 24 jam pertama akan membentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur sehingga suplai darah ke area fraktur meningkat, kemudian akan membentuk hematoma sampai berkembang menjadi jaringan granulasi. 2) Fase proliferasi (hari ke-12) Akibat dari hematoma pada respon inflamasi fibioflast dan kapiler-kapiler baru tumbuh membentuk jaringan granulasi dan osteoblast berproliferasi membentuk fibrokartilago, kartilago hialin dan jaringan penunjang fibrosa, akan selanjutnya terbentuk fiber-fiber kartilago dan matriks tulang yang menghubungkan dua sisi fragmen tulang yang rusak sehingga terjadi osteogenesis dengan cepat. 3) Fase formasi kalius (6-10 hari, setelah cidera) Pada fase ini akan membentuk pra prakulius dimana jumlah prakalius nakan membesar tetapi masih bersifat lemah, prakulius akan mencapai ukuran maksimal pada hari ke-14 sampai dengan hari ke-21 setelah cidera. 4) Fase formasi kalius (sampai dengan minggu ke-12) Pada fase ini prakalius mengalami pemadatan (ossificasi) sehingga terbentuk kalius-kalius eksterna, interna dan intermedialis selain itu osteoblast terus diproduksi untuk pembentukan kalius ossificasi ini berlangsung selama 2-3 minggu. Pada minggu ke-3 sampai ke-10 kalius akan menutupi tulang. 5) Fase konsolidasi (6-8 Bulan) dan remoding (6-12 bulan) Pengkokohan atau persatuan tulang proporsional tulang ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalius tulang akan mengalami remodering dimanaosteoblast akan membentuk tulang baru, sementara osteoklast akan menyingkirkan bagian yang rusak sehingga akhirnya akan terbentuk tulang yang menyeruapai keadaan tulang yang aslinya. D. TANDA DAN GEJALA 1. Nyeri tekan : karena adanya kerusakan syaraf dan pembuluh darah. 2. Bengkak dikarenakan tidak lancarnya aliran darah ke jaringan. 3. Krepitus yaitu rasa gemetar ketika ujung tulang bergeser. 4. Deformitas yaitu perubahan bentuk, pergerakan tulang jadi memendek karena kuatnya tarikan otot-otot ekstremitas yang menarik patahan tulang. 5. Gerakan abnormal, disebabkan karena bagian gerakan menjadi tidak normal disebabkan tidak tetapnya tulang karena fraktur. 6. Fungsiolaesa/paralysis karena rusaknya syaraf serta pembuluh darah. 7. Memar karena perdarahan subkutan. 8. Spasme otot pada daerah luka atau fraktur terjadi kontraksi pada otot-otot involunter. 9. Gangguan sensasi (mati rasa) dapat terjadi karena kerusakan syaraf atau tertekan oleh cedera, perdarahan atau fragmen tulang. E. KOMPLIKASI  Malunion : Fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi, perpendekan/rotasi)  Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal.  Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung yang juga disebut pseudoarthritis, nonunion yaitu terjadi karena penyambungan yang tidak tepat, tulang gagal bersambung kembali. F. PENATALAKSANAAN a. Medis 1) Traksi Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstreminasi klien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu tarikan tulang yang patah. Kegunaan traksi adalah antara lain mengurangi patah tulang, mempertahankan fragmen tulang pada posisi yang sebenarnya selama penyembuhan, memobilisasikan tubuh bagian jaringan lunak, memperbaiki deformitas. Jenis traksi ada dua macam yaitu : Traksi kulit, biasanya menggunakan plester perekat sepanjang ekstremitas yang kemudian dibalut, ujung plester dihubungkan dengan tali untuk ditarik. Penarikan biasanya menggunakan katrol dan beban. Traksi skelet, biasanya dengan menggunakan pin Steinman/kawat kirshner yang lebih halus, biasanya disebut kawat k yang ditusukan pada tulang kemudian pin tersebut ditarik dengan tali, katrol dan beban. 2) Reduksi Reduksi merupakan proses manipulasi pada tulang yang fraktur untuk memperbaiki kesejajaran dan mengurangi penekanan serta merenggangkan saraf dan pembuluh darah. Jenis reduksi ada dua macam, yaitu : Reduksi tertutup, merupakan metode untuk mensejajarkan fraktur atau meluruskan fraktur, dan Reduksi terbuka, pada reduksi ini insisi dilakukan dan fraktur diluruskan selama pembedahan dibawah pengawasan langsung. Pada saat pembedahan, berbagai alat fiksasi internal digunakan pada tulang yang fraktur. b. Fisiotherapi Alat untuk reimobilisasi mencakup exercise terapeutik, ROM aktif dan pasif. ROM pasif mencegah kontraktur pada sendi dan mempertahankan ROM normal pada sendi. ROM dapat dilakukan oleh therapist, perawat atau mesin CPM (continous pasive motion). ROM aktif untuk meningkatkan kekuatan otot. G. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Data demografi : identitas klien Riwayat kesehatan sekarang : kejadian yang mengalami cidera. Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat penyakit DM, TB, arthritis, osteomielitis, dan lain-lain. Riwayat imunisasi : Polio, Tetanus. Aktivitas/istirahat : keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena, deformitas, pembengkakan jaringan, nyeri. Sirkulasi : peningkatan tekanan darah (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas). Penurunan tekanan darah sebagai respon dari perdarahan. Takikardi sebagai respon dari stress dan hipovolemia. Pengisian kapiler lambat, sianosis, edema, denyut nadi distal lambat. Neurosensori : hilang sensasi, spasme otot, kesemutan, kelemahan, nyeri. Integumen, laserasi, perdarahan edema, perubahan warna kulit. Sistem otot : kekuatan gerak koordinasi. Pemeriksaan diagnostic. Pemeriksaan ronthgen menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma. Scan tulang, tomogram, scan ct, MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai. Hitung darah lengkap : HT, mungkin meningkat (hemoton sentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan leukosit adalah respon stress normal setelah trauma. 2. Diagnosa Keperawatan Rumusan diagnosa keperawatan pada klien dengan fraktur multiple menurut doengoes adalah : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan trauma jalan nafas, resiko gangguan nutrisi tulang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologi (perubahan structual), nyeri berhubungan dengan spasme otot, edema, cidera jaringan lunak, gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuscular, resiko tinggi gangguan integritas kulit berhubungan dengan cidera tusuk fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksipen, kawat dan sekrup, kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan pemasangan kawat dirahang, resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak ada kuatnya pertahanan primer. Anxietas berhubungan dengan krisi situasi, kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan, berhubungan dengan kurang informasi. 3. Perencanaan Berdasarkan diagnosa keperawtan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan gangguan sytem musculo skeletal fraktur adalah sebagai berikut. a. Diagnosa Pertama (tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan trauma jalan nafas). Tujuan yang ingin dicapai adalah bersihan jalan nafas efektif. Intervensi : yang akan dilakukan adlah, tinggikan tempat tidur30 derajat, observasi frekuensi/irama pernafasan, observasi adanya batuk, wheezing dan edema, observasi tanda-tanda vital. Auskultasi bunyi nafas, ajarkan tekhnik nafas dalam, ubah posisi secara periodic, berikan minum2-3 liter/hari dam kolaborasi dalam pemberian oksigen. b. Diagnosa Kedua (resiko tinggi trauma berhubungan denganhilangnya integritas tulang/fraktur). Tujuan yang akan dicapai adalah klien terhindar dari trauma. Intervensi yang akan dilakukan adalah pertahanan traksi baring sesuai indikasi letakan papan dibawah tempat tidurortopedik, pertahanan posisi netral pada bagian, fraktur dengan bantal, anjurkan klien menghindari untuk beban yang berat, kolaborasi dengan tim medis lain, rinthgen. c. Diagnosa Ketiga (resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pemasangan kawat di rahang). Tujuan yang akan dicapai adalah gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi. Intervensi yang akan dilakukan adalah, timbang berat badan setiap hari, berikan air minum hangat bila mual, anjurkan klien bersandar bila makan atau minum, anjurkan makan dengan sedotan berikan makan sedikit tapi sering dengan konsistensi yang sesuai, hindari suhu extreme. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet. d. Diagnosa keempat (gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot). Tujuan yang akan dicapai adalah nyeri berkurang. Intervensi yang akan dilakukan adalah kaji karakteritik nyeri, lokasi dan intensitas (skala 0-10). Perrtahankan mobilisasi tirah baring, tinggikan bagian ekstremitas yang nyeri, beri kompres dingin, observasi tanda-tanda vital (TD,N,S,RR). Ajarkan tekhnik relaksasi, kolaborasi dengan dokter dalampemberian therapy analgetik. e. Diagnosa kelima (Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan kerangka neuromuskuler). Tujuan yang akan dicapai adalah klien mampu bermobilisasi secara bertahap. Intervensi yang akan dilakukan adalah kaji tingkat mobilitas klien, bantu klien dalam mobilisasi, ukur TD setelah aktivitas, bantu klien dalam gerakan pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit, anjurkan klien untuk gerakan pada ekstremitas yang tidak nyeri, kolaborasi dengan tim medis lain : fisiotherapy. f. Diagnosa keenam (resiko tinggi integritas kulit berhubungan dengan cidera tusuk fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat dan sekrup). Tujuan yang akan dicapai adalah gangguan integritas kulit teratasi. Intervensi yang akan dilakukan adalah kaji keadaan luka (adanya tanda-tanda infeksi). Pertahankan tempat tidur kering dan bebas dari kerutan, rubah posisi akan setiap 2 jam sekali, lakukan perawatan luka, observasi daerah yang terpasang balutan, libatkan keluarga dalam perawatan luka. g. Diagnosa ketujuh (Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan pemasangan kawat pada rahang). Tujuan yang akan dicapai adalah klien dapat berkomunikasi, dengan baik. Intervensi yang akan dilakukan adalah : tentukan luasnya ketidak mampuan berkomunikasi, berikan pilihan cara berkomunikasi, validasi upaya arti komunikasi, antisipasi kebutuhan, tempatkan catatan didekat klien. h. Diagnosa kedelapan (resiko tiggi infeksi berhubungan dengan tidak ada kuatnya pertahan primer). Tujuan yang akan dicapai adalah infeksi tidak terjadi. Intervensi yang akan dilakukan adalah kaji kulit apakah terdapat iritasi atau robekan kontinuitas jaringan observasi tanda-tanda vital, terutama suhu, observasi tanda-tanda infeksi, lakukan perawatan luka secara septic dan antiseptic, kaji balutan luka kolaborasi dengan tim medis lain : laboratorium dalam pemeriksaan darah (LED dan leukosit), kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic. i. Diagnosa kesembilan (Anxietas berhubungan dengan krisis situasi). Tujuan yang akan dicapai adalah klien tidak cemas lagi. Intervensi yang akan dilakukan adalah diskusikan tindakan keamanan, bantu mengekspresikan ketakutan, bantu untuk mengakui kenyataan, termasuk marah, beri penjelasan tentang peubahan wajah, berikan cermin bila pasien menghendaki, ajarkan tekhnik manajemen stress. j. Diagnosa kesepuluh (Kurang pegetahuan tentang kondisi prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi). Tujuan yang akan dicapai adalah pengetahuan klien akan bertambah. Intervensi yang akan dilakukan adalah kaji sejauh mana tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya, beri pendidikan kesehatan tentang penyakitnya, beri reinfoercement positif jika klien menjawab dengan cepat, pilih berbagai strategi belajar seperti : tekhnik ceramah, tanya jawab dan demonstrasikan dan tanyakan apa yang tidak diketahui klien. 4. Evaluasi Berdasarkan implementasi yang dilakukan, maka evaluasi yang diharapkan adalah bersihan jalan nafas efektif, trauma tidak terjadi, gangguan nutrisi teratasi, nyeri teratasi, gangguan mobilitas fisik teratasi, gangguan integritas kulit teratasi, kerusakan komunikasi verbal teratasi, infeksi tidak terjadi, klien tidak cemas dan kurang pengetahuan teratasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar