Selasa, 29 Mei 2012

askep miastenia gravis

A. Konsep Dasar Penyakit 1. Definisi/Pengertian Miastenia Gravis yang berarti “kelemahan otot yang serius” adalah satu-satunya penyakit neuromuskuler yang menggabungkan kelelahan cepat otot voluntar dan waktu penyembuhan yang lama (penyembuhan dapat butuh waktu 10 hingga 20 kali lebih lama daripada normal). (Sylvia A. Price : 1148) Miastenia Gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi transmisi neuromuskular pada otot tubuh yang kerjanya dibawah kesadaran seseorang (volunter). (Brunner & Suddarth : 2196) 2. Epidemiologi/Insiden kasus Serangan dapat terjadi pada beberapa usia, ini terlihat paling sering pada wanita antara15-35 tahun dan pada pria sampai 40 tahun. Dahulu, angka kematian mencapai 90 %. Angka kematian menurun drastis sejak tersedia pengobatan dan unit perawatan pernapasan. 3. Etiologi Miastenia Gravis Kelainan primer pada Miastenia Gravis dihubungkan dengan gangguan transmisi pada neuromuscular junction, yaitu penghubung antara unsur saraf dan unsur otot. Pada ujung akson motor neuron terdapat partikel -partikel globuler yang merupakan penimbunan asetilkolin (ACh). Jika rangsangan motorik tiba pada ujung akson, partikel globuler pecah dan ACh dibebaskan yang dapat memindahkan gaya sarafi yang kemudian bereaksi dengan ACh Reseptor (AChR) pada membran postsinaptik. Reaksi ini membuka saluran ion pada membran serat otot dan menyebabkan masuknya kation, terutama Na, sehingga dengan demikian terjadilah kontraksi otot. Penyebab pasti gangguan transmisi neromuskuler pada Miastenia Gravis tidak diketahui. Dulu dikatakan, pada Miastenia Gravis terdapat kekurangan ACh atau kelebihan kolinesterase, tetapi menurut teori terakhir, faktor imunologik yang berperanan. 4. Manifestasi klinis Miastenia Gravis Karakteristik penyakit berupa kelemahan otot ekstrem dan mudah mengalami kelelahan, yang umumnya memburuk setelah aktivitas dan berkurang setelah istirahat. Pasien dengan penyakit ini akan mengalami kelelahan hanya karena penggunaan tenaga yang sedikit seperti menyisir rambut, mengunyah dan berbicara, dan harus menghentikan segalanya untuk istirahat. Berbagai gejala yang muncul sesuai dengan otot yang terpengaruh. Otot-otot simetris terkena, umumnya ini dihubungkan dengan saraf kranial. Karena otot-otot okular terkena maka gejala awal yang muncul adalah diplopia (pengelihatan ganda) dan ptosis (jatuhnya kelopak mata). Kelemahan pada otot bulbar menyebabkan masalah mengunyah dan menelan dan adanya bahaya tersedak dan aspirasi. Gambar 1. Letak otot mata dan maseter Gambar 2. Pasien ptosis Ekspresi wajah pasien yang sedang tidur terlihat seperti patung, hal ini disebabkan karena otot-otot wajah terkena. Pengaruhnya terhadap laring menyebabkan disfonia (gangguan suara) dalam membentuk bunyi suara hidung atau kesukaran dalam pengucapan kata-kata. Beberapa pasien sekitar 15% sampai 20% mengeluh lemah pada tangan dan otot-otot lengan, dan biasanya berkurang, pada otot kaki mengalami kelemahan, yang membuat pasien jatuh. Kelemahan diafragma dan otot-otot interkostal progresif mengebabkan gawat napas, yang merupakan keadaan darurat akut. Secara umum beristirahat dan agen antikolinesterase dapat meringankan gejala gejala Miastenia Gravis. Gejala diperberat oleh perubahan keseimbangan hormonal (misal selama kehamilan, fluktuasi dalam siklus menstruasi atau gangguan fungsi tiroid), penyakit yang terjadi pada waktu yang bersamaan khususnya infeksi traktus pernapasan atas dan yang berkaitan dengan diare dan demam, emosi kekecewaan (sebagian besar pasien mengalami kelemahan otot yang lebih ketika kecewa), alkohol (khususnya dengan air tonik yang terdiri dari kuinin, yaitu obat yang meningkatkan kelemahan otot) dan obat lain-lain. 5. Patofisiologi terjadinya penyakit PENJELASAN Otot rangka dan otot lurik dipersarafi oleh nervus besar bermielin yang berasal dari sel kornu anterior medula spinalis dan batang otak. Nervus ini mengirim keluar aksonnya dalam nervus spinalis atau kranialis menuju perifer. Nervus yang bersangkutan bercabang berkali-kali dan mampu merangsang 2000 serat otot rangka. Kombinasi saraf motorik dan serabut otot yang dipersarafinya disebut unit motorik. Gambar 3. Mekanisme kerja saraf motorik Daerah khusus yang menghubungkan antara saraf motorik dengan serabut otot disebut sinaps atau taut neuromuskular. Taut neuromuskular adalah sinaps kimia antara saraf dan otot yang terdiri dari tiga komponen dasar : elemen prasinaptik, elemen pascasinaptik dan celah sinaptik. Elemen prasinaptik terdiri dari akson terminal yang terdiri berisi vesikel sinaptik dengan neurotransmiter asetilkolin. Asetilkolin disintesis dan disimpan dalam akson terminal (Button). Membran plasma akson terminal disebut membran prasinaps. Elemen pascasinaps terdiri dari membran pascasinaps atau ujung lempeng motorik dari serat otot. Membran pascasinaps dibentuk oleh invaginasi yang disebut saluran sinaps membran otot atau sarkolema kedalam tonjolan akson terminal. Membran pascasinaps memiliki banyak lipatan yang sangat meningkatkan luas permukaan. Gambar 4. Lokasi taut neuromuskular (Sinaps) Membran pascasinaps juga mengandung reseptor asetilkolin dan mampu membangkitkan lempeng akhir motorik yang sebaliknya dapat menghasilkan potensial aksi otot. Asetilkolinesterase yaitu enzim yang merusak asetilkolin juga terdapat dalam membran pascasinaps. Celah sinaptik mengacu pada ruangan antara membran prasinaps dan menbran pascasinaps. Apabila impuls saraf mencapai taut neuromoskular, membran akson prasinaptik terminal terdepolarisasi, menyebabkan pelepasan asetilkolin ke dalam celah sinaptik. Asetilkolin menyeberangi celah sinaptik secara difus dan menyatu dengan bagian reseptor asetilkolin dalam membran pascasinaptik. Masuknya ion Na secara mendadak dan keluarnya ion K menyebabkan depolarisasi ujung lempeng, yang diketahui sebagai ujung lempeng potensial. Ketika ujung lempeng potensial mencapai puncak, maka ujung tersebut akan menghasilkan potensial potensial aksi dalam membran otot. Potensial aksi ini merangkai serangkaian reaksi yang menyebabkan kontraksi serabut otot. Begitu terjadi transmisi melewati penghubung neuromuskular, asetilkolin akan dirusak oleh enzim asetilkolinesterase. Pada orang normal, jumlah asetilkolin yang dilepaskan lebih dari cukup untuk menyebabkan suatu potensial aksi. Gambar 5. Mekanisme kerja reseptor asetilkolin Pada Miastenia Gravis, konduksi neuromuskularnya terganggu. Jumlah reseptor asetilkolin normal menjadi menurun yang terjadi akibat cedera autoimun sehingga terjadi penurunan potensial aksi yang menyebabkan kelemahan pada otot. Pada 90 % pasien gejala awal melibatkan otot okular yang menyebabkan ptosis dan diplopia. Otot wajah, laring dan faring juga sering terlibat dalam Miastenia Gravis yang dapat mengakibatkan regurgitasi melalui hidung ketika berusaha menelan dan pasien dapat mengalami aspirasi, gangguan suara (disfonia). Kelemahan otot pernapasan juga ditandai dengan batuk lemah dan akhirnya serangan dispnea, dan ketidakmampuan membersihkan mukus dari cabang trakeobronkial. Selain itu terjadi kelemahan otot ekstremitas yang menyebabkan pasien kesulitan untuk berdiri, berjalan, atau bahkan menahan lengan di atas kepala (Misalnya ketika sedang menyisir rambut). 6. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik. Pemeriksa harus memiliki pengetahuan mengenai Miastenia Gravis. Banyak pasien telah berterus terang kepada psikiater karena gejala mereka hanya memiliki dasar fisiologis. Meminta pasien untuk memperlihatkan aktivitas berulang hingga kelelahan adalah bukti-bukti yang dapat membantu menegakkan diagnosis. Elektromiografi (EMG) memperlihatkan satu ciri khas penurunan dalam amplitudo unit motorik potensial dengan penggunaan yang terus menerus. Tes khusus untuk Miastenis Gravis adalah adanya antibodi serum terhadap reseptor asetilkolin. Setidaknya 80% penderita Miastenia Gravis memiliki kadar antibodi serum tinggi yang abnormal, tetapi penderita bentuk penyakit Miastenia Gravis okular yang ringan atau tunggal dapat memiliki hasil negatif palsu. Diagnosis dipastikan dengan tes Tensilon. Edrofonium klorida (Tensilon) adalah suatu obat penghambat kolinesterase, yang diberikan secara intravena. Pada pasien Miastenia Gravis memperlihatkan perbaikan otot dalam 30 detik. Ketika didapatkan hasil positif, perlu didapatkan diagnosis banding antara Miastenia Gravis sejati dengan sindron miastenik. Penderita sindrom miastenia memiliki gejala yang sama dengan Miastenia Gravis sejati, namin penyebabnya berkaitan dengan proses patologis lain (seperti diabetes, kelainan tiroid, dan keganasan yang menyebar). Usia awitan kedua keadaan ini adalah faktor pembeda yang penting. Penderita Miastenia Gravis sejati biasanya berusia muda, sedangkan penderita sindrom miastenia cenderung lebih tua. Gejala sindrom miastenia biasanya menghilang bila penyakit dasarnya dapat dikontrol. Pada Miastenia Gravis terjadi kelainan kelenjar timus. Walaupun terlalu kecil untuk dapat dilihat secara radiologis, kelenjar timus sebagian besar pasien secara histologis adalah abnormal. Perempuan usia muda cenderung mengalami hiperplasia timus sedangkan laki-laki usia tua cenderung mengalami neoplasma timus. Gambar 6. Letak kelenjar timus 7. Penatalaksanaan Penatalaksanaan Miastenia Gravis ditentukan dengan meningkatkan fungsi pengobatan pada obat antikolinesterase dan menurunkan serta mengeluarkan sirkulasi antobodi. Terapi mencakup agens-agens antikolinesterase dan terapi imunosupresif, yang terdiri dari plasmeferesis dan timektomi. Agens-agens antikolinesterase. Obat ini bereaksi dengan meningkatkan konsentrasi asetilkolin yang relatif tersedia pada persimpangan neuromuskular. Mereka diberikan untuk meningkatkan respons otot-otot terhadap impuls saraf dan meningkatkan kekuatan otot. Kadang-kadang mereka diberikan hanya mengurangi simtomatik. Obat-obatan dalam pengobatan digunakan piridostigmin bromida (Mestinon), ambenonium khlorida (Mytelase), dan neostigmin bromida ( Prostigmine). Banyak pasien lebih suka pada piridostigmin karena obat ini menghasilkan efek samping yang sedikit. Dosis ditingkatkan berangsur-angsur sampai tercapai hasil maksimal yang diinginkan (bertambahnya kekuatan, berkurangnya kelelahan), walaupun kekuatan otot normal tidak tercapai dan pasien akan mempunyai kekuatan beradaptasi terhadap beberapa ketidakmampuan. Obat-obat antikolinesterase diberikan dengan susu, krekers, atau substansi penyangga makanan lainnya. Efek samping mencakup kram abdominal, mual, muntah, dan diare. Dosis kecil atrofin, diberikan satu atau dua kali sehari, dapat menurunkan atau mencegah efek samping. Terapi imunosupresif ditentukan dengan tujuan menurunkan produksi antibodi antoreseptor atau mengeluarkan langsung melalui perubahan plasma. Terapi imunosupresif mencakup kortikosteroid, plasmaferesis dan timektomi. Terapi kortikosteroid dapat menguntungkan pasien dengan miastenia yang pada umumnya berat. Kortikosteroid digunakan mereka dengan efek terjadinya penekanan respons imun pasien, sehingga menurunkan jumlah penghambatan antibodi. Dosis antikolinesterase diturunkan sampai kemampuan pasien untuk mempertahankan respirasi efektif dan kemampuan menelan dipantau. Dosis steroid berangsur-angsur ditingkatkan dan obat antikolinesterase diturunkan dengan lambat. Prednison digunakan dalam beberapa hari untuk menurunkan efek samping, kadang-kadang pasien memperlihatkan adanya penurunan kekuatan otot setelah terapi dimulai, tetapi ini biasanya hanya sementara. Obat-obat sitotoksik juga diberikan. Walaupun mekanisme aksi yang muncul tidak sepenuhnya dimengerti, namun obat-obat seperti azatioprin (Imuran) dan siklofosfamid (Cytoxan) menurunkan titer sirkulasi antisetilkolin pada reseptor antibodi. Efek samping yang muncul kadang-kadang terjadi dan hanya pasien dengan penyakit berat saja yang diobati dengan obat-obatan ini. Pertukaran plasma (plasmeferesis) adalah teknik yang memungkinkan pembuangan selektif plasma dan komponen plasma pasien.sel-sel yang sisa kembali dimasukkan. Penukaran plasma menghasilkan reduksi sementara dalam titer sirkulasi antibodi. Proses ini mempunyai pengaruh ynag hebat pada pasien tetapi tidak mengobati keadaan abnormal (menghasilkan antireseptor antibodi) sampai waktu yang panjang. Penatalaksanaan pembedahan Pada pasien Miastenia Gravis timus tampak terlibat dalam produksi antibodi AchR. Timektomi (pembedahan mengangkat timus) menyebabkan pengurangan penyakit substansial, terutama pada pasien dengan tumor atau hiperplasia kelenjar timus. Timektomi yaitu membuka sternum karena seluruh timus harus dibuang. Hal ini dianggap bahwa timektomi pada awal perjalanan penyakit adalah terapi spesifik, sehingga tindakan ini mencegah pembentukan antireseptor antibodi. Setelah pembedahan, pasien dipantau di ruang perawatan intensif untuk memberikan perhatian khusus dalam fungsi pernapasan. 8. Krisis dalam Miastenia Gravis Pasien miastenik dikatakan berada dalam krisis bila sudah tidak mampu menelan, membersihkan sekret, atau bernapas secara adekuat tanpa bantuan alat. Dua jenis krisis adalah krisis miastenik yaitu keadaan ketika pasien membutuhkan lebih banyak obat antikolinesterase dan krisis kolinergik yaitu keadaan yang terjadi akibat kelebihan obat antikolinesterase. Pada keadaan lain, ventilasi dan jalan napas yang adekuat harus dipertahankan. Edrofonium klorida (Tensilon 2 hingga 5 mg) diberikan secara intravena sebagai test untuk membedakan jenis krisis.. obat tersebut menghasilkan perbaikan sementara dalam krisis miastenik namun tidak memperbaiki atau memperburuk gejala pada krisis kolinergik. Bila terjadi krisis miastenik, pasien dipertahankan dengan respirator. Obat antikolinesterse tidak dapat diberikan karena obat itu dapat meningkatkan sekresi pernapasan dan dapat mencetuskan krisis kolinergik. Pemberian obat dimulai lagi secara bertahap dan seringkali dosis dapat diturunkan setelah krisis. Pada krisis kolinergik, pasien mungkin telah meminum obat secara berlebihan karena kesalahan atau dosisnya mungkin berlebihan karena terjadi remisi spontan. Banyak pasien yang mengalami krisis ini disebut miastenik rapuh. Episode ini sulit dikendalikan dengan pengobatan dengan kisaran terapeutik yang sempit antara kekurangan dosis dan kelebihan dosis. Respon terhadap pengobatan ini seringkali hanya sebagian. Pada krisis kolinergik, pasien dipertahankan dengan ventilasi buatan. Obat antikolinergik tidak dapat diberikan, dan 1 mg atropin diberikan secara intravena dan dapat diulang bila perlu. Ketika diberikan atropin, pasien harus diawasi dengan hati-hati karena sekret pernapasan dapat mengental sehingga terjadi kesulitan menghisap, atau sumbatan mukus dapat menghambat bronkus sehingga terjadi atelektasis. B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang saling berhubungan yaitu : 1. PENGKAJIAN Data subyektif :  Pasien mengatakan mengalami kelelahan pada waktu beraktivitas ringan seperti berjalan, menyisir rambut, dan berbicara.  Pasien mengatakan susah mengunyah dan menelan.  Pasien mengatakan kesulitan dalam mengucapkan kata-kata.  Pasien mengatakan kelopak mata jatuh dan pengelihatan ganda.  Pasien mengatakan kesulitan bernapas. Data obyektif :  Ptosis dan diplopia.  Pasien tampak lemah ketika beraktivitas ringan seperti berjalan, menyisir rambut.  Disfonia.  Dispneu.  Kesulitan dalam mengunyah dan menelan. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Berdasarkan pada data pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan yang muncul meliputi : 1) Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan. 2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot-otot ekstremitas. 3) Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan kelemahan otot bulbar. 4) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan reflek batuk yang lemah dan ketidakmampuan membersihkan mukus dari cabang trakeobronkial. 5) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan mengunyah dan menelan. 6) Risiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot ekstremitas, pengelihatan ganda (diplopia) dan ptosis. 7) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pengelihatan ganda (diplopia) dan ptosis. 8) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan suara (disfonia). 3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN Pada tahap penyusunan rencana tindakan, hal yang dilakukan adalah : menentukan prioritas diagnosa keperawatan, menentukan tujuan, menentukan kriteria evaluasi dan menentukan rencana tindakan. a. Prioritas diagnosa keperawatan 1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan reflek batuk yang lemah dan ketidakmampuan membersihkan mukus dari cabang trakeobronkial. 2) Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan. 3) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot-otot ekstremitas. 4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan mengunyah dan menelan. 5) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan suara (disfonia). 6) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pengelihatan ganda (diplopia) dan ptosis. 7) Risiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot ekstremitas, pengelihatan ganda (diplopia) dan ptosis. 8) Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan kelemahan otot bulbar. b. Rencana Keperawatan dapat dilihat pada lampiran. 4. EVALUASI 1) Bersihan jalan napas efektif. 2) Mencapai fungsi pernapasan adekuat. 3) Beradaptasi pada kerusakan mobilitas. 4) Nutrisi pasien adekuat. 5) Pasien mampu berkomunikasi dengan alternatif pilihan pasien 6) Pasien mampu mengekspresikan konsep diri yang positif. 7) Pasien dapat melihat dengan bantuan penutup mata 8) Tidak mengalami aspirasi. DAFTAR PUSTAKA - Brunner & Suddart. (1996), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol 3, EGC, Jakarta. - Carpenito, L.J. (2001) Handbook of Nursing Diagnosis (Buku terjemahan), Ed.8. EGC, Jakarta. - Sylvia, A. (2005), Patofisiologi konsep klinis proses penyakit, Edisi 6, Vol 2, EGC, Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998). Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawlins, 1993, dikutip Budi Anna Keliat). RENTANG RESPONS SOSIAL Gangguan hubungan sosial terdiri atas : Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998; hal 252). Kerusakan Interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif, dengan karakteristik : Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidaknyamanan dalam situasi-situasi sosial. Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan rasa memiliki, perhatian, minat, atau membagi cerita. Tampak menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil. Disfungsi interaksi dengan rekan sebaya, keluarga atau orang lain. Penggunaan proyeksi yang berlebihan tidak menerima tanggung jawab atas perilakunya sendiri. Manipulasi verbal. Ketidakmampuan menunda kepuasan. (Mary C. Townsend, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, 1998; hal 226). FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan. Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan fakto psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and Sundeen, 1995). TANDA DAN GEJALA Data Subjektif : Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata “tidak “, “iya”, “tidak tahu”. Data Objektif : Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan : Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul. Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan. Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat. Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk. Berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya. Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan. Posisi janin pada saat tidur. KARAKTERISTIK PERILAKU • Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan. • Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. • Kemunduran secara fisik. • Tidur berlebihan. • Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama. • Banyak tidur siang. • Kurang bergairah. • Tidak memperdulikan lingkungan. • Kegiatan menurun. • Immobilisasai. • Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang). • Keinginan seksual menurun. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL I. Deskripsi Tanggapan atau deskripsi tentang isolasi yaitu suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (towsend, 1998). Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. II. Pengkajian Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor , suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi : Identitas Klien Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama, tangggal MRS , informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien. Keluhan Utama Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen Faktor predisposisi kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. d. Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien. e. Aspek Psikososial Genogram yang menggambarkan tiga generasi Konsep diri a) citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh . Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan. b) Identitas diri Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan . c) Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua , putus sekolah, PHK. d) Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. e) Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri , gangguan hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga social dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat. Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual) f. Status Mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. g. Kebutuhan persiapan pulang. 1) Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan 2) Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC, membersikan dan merapikan pakaian. 3) Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi 4) Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah 5) Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. h. Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri) i. Aspek Medik Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas. III. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen, 1995) Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut : Isolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri: harga diri rendah Resiko perubahan sensori persepsi Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal. Intoleransi aktifitas. Kekerasan resiko tinggi. IV. Pohon Masalah Diagnosa Keperawatan Resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan menarik diri. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa : Resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan menarik diri. Tujuan umum : Tidak terjadi perubahan sensori persepsi. Tujuan khusus : klien dapat Membina hubungan saling percaya. Menyebutkan penyebab menarik diri. Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain. Melakukan hubungan sosial secara bertahap, klien – perawat, klien – kelompok, klien – keluarga. Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain. Memberdayakan sistem pendukung. Menggunakan obat dengan tepat dan benar. Tindakan keperawatan : 1.1 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan, tempat berbicara, waktu bicara). 1.2 Berikan perhatian dan penghargaan : temani klien waktu tidak menjawab, katakan “saya akan duduk disamping anda, jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan”. Jika klien menatap wajah perawat katakan “ada yang ingin anda katakan?”. 1.3 Dengarkan klien dengan empati : berikan kesempatan bicara (jangan di buru-buru), tunjukkan perawat mengikuti pembicaraan klien. 2.1. Bicara dengan klien penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain. 2.2 Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri. 3.1. Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain. 3.1 Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk bergaul. 4.1 Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien (jika mungkin perawat yang sama). 4.2 Motivasi / temani klien untuk berinteraksi / berkenalan dengan klien / perawat lain. beri contoh cara berkenalan. 4.3 Tingkatkan interaksi klien secara bertahap (satu klien, dua klien, satu perawat, dua perawat, dan seterusnya). 4.4 Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok, sosialisasi. 4.5 Bantu klien melakukan aktivitas hidup sehari-hari dengan interaksi. 4.6 Fasilitas hubungan klien dengan keluarga secara terapeutik. 5.1 Diskusikan dengan klien setiap selesai interaksi/kegiatan. 5.2 Beri pujian akan keberhasilan klien. Evaluasi Kriteria evaluasi : 1.1 Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi. 2.1 Klien dapat dapat menyebutkan penyebab menarik diri berasal dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan. 3.1 Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian dalam berhubungan dengan orang lain. 4.1 Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap : K – P, K – P – K, K – P – Kel, K – P – Kelompok. 5.1 Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri dan orang lain. 6.1 Keluarga dapat berpartisipasi dalam merawat klien menarik diri. Daftar Pustaka Townsend M. C, (1998). Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri, Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan , Jakarta : EGC. Anna Budi Keliat, SKp. (2000). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri, Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.. Rasmun, (2001). Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga. Konsep, Teori, Asuhan Keperawatan dan Analisa Proses Interaksi (API). Jakarta : fajar Interpratama. Stuart and Sundeen, ”Buku Saku Keperawatan Kesehatan Jiwa”, alih bahasa Hapid AYS, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. ———–, (1998). Buku Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan Asuhan Keperawatan pada Kasus di Rumah Sakit Ketergantungan Obat. Direktorat Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Dep-Kes RI, Jakarta. www.erfanhiyandi.blogspot.com/askep_isolasi sosial.html. (di akses 13 Mei 2009)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EPISTAKSIS

A. Pengertian Epistaksis adalah pedarahan hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik). Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala suatu kelainan. Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a.sfenopalatina. Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah, anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat. B. Etiologi Penyebab lokal : 1. Trauma misalnya karna mengorek hidung, terjatuh, terpukul, benda asing di hidung, trauma pembedahan, atau iritasi gas yang merangsang. 2. Infeksi hidung atau sinus paranasal,seperti rinitis,sinusitis,serta granuloma spesifik seperti lepra dan sifilis. 3. Tumor,baik jinak maupun ganas pada hidung,sinus paranasal dan nasoparing. 4. Pengaruh lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak, seperti pada penerbang maupun penyelam(penyakit Caisson), atau lingkungan yang udaranya sangat dingin. 5. Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksisringan disertai ingus berbau busuk. 6. Idiopatik, biasanya merupakan epistaksis yang ringan dan berulangpada anak dan remaja. Penyebab sistemik : 1. Penyakit Kardiovaskular, seperti hipertensi dan kelainan pembuluh darah. 2. Kelainan darah, seperti trombositopenia, hemofilia, dan leukimia. 3. Infeksi sistemik, Seperti demam berdarah dengue, Influenza, Morbiliatau demam tifoid. 4. Gangguan endokrin, Seperti pada kehamilan, menars, dan menopous. 5. Kelainan kongenital, seperti penyakit Osler (hereditary hemorrhagic telangiectasia). C. Patofisiologi Rongga hidung kita kaya dengan pembuluh darah. Pada rongga bagian depan, tepatnya pada sekat yang membagi rongga hidung kita menjadi dua, terdapat anyaman pembuluh darah yang disebut pleksus Kiesselbach. Pada rongga bagian belakang juga terdapat banyak cabang-cabang dari pembuluh darah yang cukup besar antara lain dari arteri sphenopalatina. Rongga hidung mendapat aliran darah dari cabang arteri maksilaris (maksila=rahang atas) interna yaitu arteri palatina (palatina=langit-langit) mayor dan arteri sfenopalatina. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari arteri fasialis (fasial=muka). Bagian depan septum terdapat anastomosis (gabungan) dari cabang-cabang arteri sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina mayor yang disebut sebagai pleksus kiesselbach (little’s area). Jika pembuluh darah tersebut luka atau rusak, darah akan mengalir keluar melalui dua jalan, yaitu lewat depan melalui lubang hidung, dan lewat belakang masuk ke tenggorokan. Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a.sfenopalatina. Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah, anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat jarang berhenti spontan. D. Manifestasi Klinik Pertama adalah menjaga ABC - A : airway : pastikan jalan napas tidak tersumbat/bebas, posisikan duduk menunduk. - B : breathing: pastikan proses bernapas dapat berlangsung, batukkan atau keluarkan darah yang mengalir ke belakang tenggorokan - C : circulation : pastikan proses perdarahan tidak mengganggu sirkulasi darah tubuh, pastikan pasang jalur infus intravena (infus) apabila terdapat gangguan sirkulasi. Posisikan pasien dengan duduk menunduk untuk mencegah darah menumpuk di daerah faring posterior sehingga mencegah penyumbatan jalan napas. 1. Hentikan perdarahan a. Tekan pada bagian depan hidung selama 10 menit. b. Tekan hidung antara ibu jari dan jari telunjuk. c. Jika perdarahan berhenti tetap tenang dan coba cari tahu apa faktor pencetus epistaksis dan hindari. 2. Jika perdarahan berlanjut : a. Dapat akibat penekanan yang kurang kuat b. Bawa ke fasilitas yang . c. Dapat diberikan vasokonstriktor (adrenalin 1:10.000, oxymetazolin-semprot hidung) ke daerah perdarahan. Apabila masih belum teratasi dapat dilakukan kauterisasi elektrik/kimia (perak nitrat) atau pemasangan tampon hidung. E. Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul : • Sinusitis • Septal hematom (bekuan darah pada sekat hidung) • Deformitas (kelainan bentuk) hidung • Aspirasi (masuknya cairan ke saluran napas bawah) • Kerusakan jaringan hidung • Infeksi F. Pemeriksaan Penunjang Jika perdarahan sedikit dan tidak berulang, tidak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Jika perdarahan berulang atau hebat lakukan pemeriksaan lainnya untuk memperkuat diagnosis epistaksis. • Pemeriksaan darah tepi lengkap. • Fungsi hemostatis • EKG • Tes fungsi hati dan ginjal • Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring. • CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya rinosinusitis, benda asing dan neoplasma. G. Penatalaksanaan Penatalaksanaan awal dengan penekanan pada hidung. Bila tidak berhasil dilakukan pemasangan tampon pada hidung (tampon anterior ataupun posterior), kauterisasi secara kimia/listrik, pemberian obat antikoagulansia, atau ligasi pembuluh darah. Keempat tindakan tersebut membutuhkan keahlian medis tertentu. KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,, 2. Riwayat Penyakit sekarang : 3. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh sulit bernafas, tenggorokan. 4. Riwayat penyakit dahulu : - Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma - Pernah mempunyai riwayat penyakit THT - Pernah menedrita sakit gigi geraham 5. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. 6. Riwayat spikososial a. Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0 b. Interpersonal : hubungan dengan orang lain. 7. Pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat - Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping. b. Pola nutrisi dan metabolisme : - Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung c. Pola istirahat dan tidur - Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek. d. Pola Persepsi dan konsep diri - Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep diri menurun e. Pola sensorik - Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilekterus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen). 8.Pemeriksaan fisik a. Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda vital, kesadaran. b. Pemeriksaan fisik data focus hidung : rinuskopi (mukosa merah dan bengkak). Data subyektif : - Mengeluh badan lemas Data Obyektif - Perdarahan pada hidung/mengucur banyak - Gelisah - Penurunan tekanan darah - Peningkatan denyut nadi - Anemia B. Penyimpangan KDM Trauma Hidung Masuknya benda asing (jatuh, terpukul, pembedahan) Mukosa Hidung Rapuh Infeksi Nyeri Perdarahan Perdarahan Anterior Perdarahan Posterior Perdarahan Spontan Mual, muntah, anemia Obstruksi Jalan Nafas Cemas C. Diagnosa Keperawatan 1. Perdarahan spontan berhubungan dengan trauma minor maupun mukosa hidung yang rapuh.. 2. Obstruksi jalan nafas berhubungan dengan nersihan jalan nafas tidak efektif. 3. Cemas berhubungan dengan perdarahan yang diderita. 4. Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas maupun pengeringan mukosa hidung. D. Intervensi Keperawatan 1. Perdarahan spontan berhubungan dengan trauma minor maupun mukosa hidung yang rapuh. Tujuan : meminimalkan perdarahan Kriteria : Tidak terjadi perdarahan, tanda vital normal, tidak anemis INTERVENSI - Monitor keadaan umum pasien - Monitor tanda vital - Monitor jumlah perdarahan psien - Awasi jika terjadi anemia - Kolaborasi dengan dokter mengenai masalah yang terjadi dengan perdarahan: pemberian transfusi, medikasi. 2. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif Tujuan : Bersihan jalan nafas menjadi efektif Kriteria : Frekuensi nafas normal, tidak ada suara nafas tambahan, tidak menggunakan otot pernafasan tambahan, tidak terjadi dispnoe dan sianosis INTERVENSI • Kaji bunyi atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada. R/ penurunan bunyi nafas dapat menyebabkan atelektasis, ronchi dan wheezing menunjukkan akumulasi sekret. • Catat kemampuan mengeluarkan mukosa/batuk efektif. R/ Sputum berdarah kental atau cerah dapat diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronchial. • Berikan posisi fowler atau semi fowler tinggi. R/ posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan. • Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. R/ mencegah obstruksi/aspirasi. • Pertahankan masuknya cairan sedikitnya sebanyak 250 ml/hari kecuali kontraindikasi. R/ Membantu pengenceran sekret. • Berikan obat sesuai dengan indikasi mukolitik, ekspektoran, bronkodilator. R/ mukolitik untuk menurunkan batuk, ekspektoran untuk membantu memobilisasi sekret, bronkodilator menurunkan spasme bronkus dan analgetik diberikan untuk menurunkan ketidaknyamanan. 3. Cemas berhubungan dengan perdarahan yang diderita. Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang Kriteria : - Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya. - Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya. INTERVENSI • Kaji tingkat kecemasan klien. R/ menentukan tindakan selanjutnya. • Berikan kenyamanan dan ketentraman pada klien. R/ Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan - Temani klien. - Perlihatkan rasa empati ( datang dengan menyentuh klien • Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang serta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti. R/ Meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif. • Singkirkan stimulasi yang berlebihan R/ dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien. - Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang. - Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan. • Observasi tanda-tanda vital. R/ Mengetahui perkembangan klien secara dini. • Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis. R/ Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien. 4. Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas maupun pengeringan mukosa hidung. Tujuan : nyeri berkurang atau hilang Kriteria hasil : - Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang - Klien tidak menyeringai kesakitan. INTERVENSI • Kaji tingkat nyeri klien. R/ Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya. • Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya. R/ Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri. • Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi. R/ Klien mengetahui tehnik distraksi dan relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri. • Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien. R/ Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. • Kolaborasi dngan tim medis. R/ Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien. Yaitu : - Terapi konservatif : obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung. DAFTAR PUSTAKA 1. Arif,Mansjoer, et al, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Media Aesculapius, Jakarta. 2. Johnson. M. Maas. M. Moorhead. S. 2000. Nursing Outcome Classification(NOC). Mosby. Philadelpia. 3. www.fkunhas.com 4. www.warta.com 5. www.blog.ilmukeperawatan.com 6. www.jevuska.com Perdarahan dari hidung, gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang bersangkutan. Epitaksis berat, walaupun jarang merupakan kegawatdaruratan yang dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal jika tidak cepat ditolong. Sumber perdarahan dapat berasal dari depan hidung maupun belakang hidung. Epitaksis anterior (depan) dapat berasal dari pleksus kiesselbach atau dari a. etmoid anterior. Pleksus kieselbach ini sering menjadi sumber epitaksis terutama pada anak-anak dan biasanya dapat sembuh sendiri. Epitaksis posterior (belakang) dapat berasal dari a. sfenopalatina dan a. etmoid posterior. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti sendiri. Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit jantung. Pemeriksaan yang diperlukan adalah darah Lengkap dan fungsi hemostasis. Epistaksis jarang ditemukan pada bayi, sering pada anak, agak jarang pada orang dewasa muda, dan lebih banyak lagi pada orang dewasa muda. Epistaksis atau perdarahan hidung dilaporkan timbul pada 60% populasi umum. Puncak kejadian dari epistaksis didapatkan berupa dua puncak (bimodal) yaitu pada usia <10 tahun dan >50 tahun. Sebelum ditangani dan diberi obat tambah darah maka resiko yang terjadi pada anak berupa anemia dan bahkan bisa menyebabkan kematian yang sebelumya bertahap dari kelemahan Kalau anak terkena serangan berupa epistaksis alangkah lebih baik kita lakukan pertolongan pertama yaitu meletakkan kepala lebih tinggi dari badan dan juga memencet hidung bagian luar selama beberapa menit dan setelah itu baru kita bawa ke dokter untuk mengetahui tindakan selanjutnya. Aliran darah akan berhenti setelah darah berhasil dibekukan dalam proses pembekuan darah. Sebuah opini medis mengatakan bahwa ketika pendarahan terjadi, lebih baik jika posisi kepala dimiringkan ke depan (posisi duduk)untuk mengalirkan darah dan mencegahnya masuk ke kerongkongan dan lambung. Pertolongan pertama jika terjadi mimisan adalah dengan memencet hidung bagian depan selama tiga menit. Selama pemencetan sebaiknya bernafas melalui mulut. Perdarahan ringan biasanya akan berhenti dengan cara ini. Lakukan hal yang sama jika terjadi perdarahan berulang, jika tidak berhenti sebaiknya kunjungi dokter untuk bantuan. Untuk pendarahan hidung yang kronis yang disebabkan keringnya mukosa hidung, biasanya dicegah dengan menyemprotkan salin pada hidung hingga tiga kali sehari. Jika disebabkan tekanan, dapat digunakan kompres es untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Jika masih tidak berhasil, dapat digunakan tampon hidung. Tampon hidung dapat menghentikan pendarahan dan media ini dipasang 1-3 hari. Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epitaksis adalah Mencegah komplikasi Mencegah komplikasi yang timbul akibat perdarahan seperti syok atau infeksi Mencegah berulangnya epitaksis Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri. Menghentikan perdarahan Menghentikan perdarahan secara aktif dengan menggunakan kaustik atau tampon jauh lebih efektif daripada dengan pemberian obat-obat hemostatik dan menunggu darah berhenti dengan sendirinya. Jika pasien datang dengan perdarahan maka pasien sebaiknya diperiksa dalam keadaan duduk, jika terlalu lemah pasien dibaringkan dengan meletakan bantal di belakang punggung pasien. Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap untuk membersihkan hidung dari bekuan darah , kemudian dengan menggunakan tampon kapas yang dibasahi dengan adrenalin 1/ 10000 atau lidokain 2 % dimasukan ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan atau mengurangi nyeri, dapat dibiarkan selama 3 -5 menit

ASUHAN KEPERAWATAN REMAJA

A. Konsep Dasar Awal remaja berlangsung mulai usia 13 tahun dan berakhir sampai 18 tahun. Ciri-ciri remaja 1. Masa remaja sebagai periode penting. Walaupun semua periode didalam rentang kehidupan penting pada usia remaja perkembangan fisik dan mental, yg cepat menimbulkan perlunya membentuk sikap nilai dan minat yg mempunyai akibat jangka panjang pada usia berikutnya. 2. Masa remaja sebagai periode peralihan Pada masa ini remaja bukan lagi sebagai anak-anak dan juga bukan orang dewasa, bila berprilaku anak–anak ia akan diajari bertindak dewasa tetapi bila berprilaku dewasa dia dikatakan masih belum waktunya bertindak seperti orang dewasa. 3. Masa remaja sebagai periode perubahan Ada Lima perubahan yg terjadi pada remaja  Pertama peningkatan emosi  Kedua , perubahan fisik  Ketiga, perubahan perilaku  Keempat, perubahan pandangan terhadap nilai  Kelima bersikap ambivalen terhadap perubahan yang terjadi atas dirinya 4. Masa remaja sebagai usia bermasalah Terdapat dua alasan, pertama sepanjang masa anak-anak segala masalah diselesaikan orang tua atau guru, kedua, karena remaja merasa mandiri sehingga tidak perlu bentuan orang lain, sehingga banyak kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan masalah karena berpengalaman. 5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas Identitas remaja sebagai masa mencari identitas Identitas diri yg dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat. 6. Masa remaja sebagai usia yg menimbulkan ketakutan Karena anggapan bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cendrung merusak maka remaja cenderung ragu dalam membuat keputusan dan mencari bantuan dalam mengatasi masalahnya. 7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik Remaja cendrung untuk melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan bukan sebagaimana adanya B. Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia remaja 1. Perubahan Fisik a. Perubahan eksternal  Tinggi badan, rata-rata anak perempuan mencapai tinggi maksimal pada usia 17-18 tahun sedang anak laki-laki antara usia 19-20 tahun.  Berat badan, perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahana tinggi badan  Proporsi tubuh, berbagai anggota tubuh mencapai perbandingan yang seimbang  Organ sex, organ sex wanita dan laki-laki mencapi ukuran yang matang tetapi fungsi belum maksimal sampai beberapa tahun kemudia, sedangkan ciri seks sekunder mencapai tingkat perkembangan matang pada akhir masa remaja. b. Perubahan Internal  Sistem pencernaan, perut menjadi lebih panjang, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot perut dan dinding usus bertambah tebal dan lebih kuat, ukuran hati bertambaha besar dan kerongkongan bertambah panjang  Sistem peredaran darah, jantung bertambah besar dengan pesat, pada usia remaja akhir berat jantung dan kerongkongan bertambah panjang  Sistem pernafasan, Kapasitas paru anak wanita matang pada usia 17 tahun sedangkan laki-laki beberapa tahun kemudian.  Sistem Endokrin, kelenjar seks berkembang pesat meskipun belum mencapi ukuran matang.  Jaringan tubuh, perkembangan rangka berhenti pada usia 18 tahun, jaringan lain terus berkembang terutama jaringan otot. 2. Perubahan Emosi Pola emosi pada remaja sama dengan anak-anak yang membedakan terletak pada rangsangan dan derajat yang membangkitkan emosi. Emosi yang umum yang dimiliki remaja antara lain : amarah, takut, cemburu, ingin tahu, irihati, gembira, sedih, kasih sayang. Remaja yang memiliki kematangan emosi yang memberikan reaksi emosional yang stabil tidak berubah-ubah dari suasana hati kesuasana hati yang lain. 3. Perubahan Sosial Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah berhubungan dengan penyesuaian sosial, hal tersebut dikarenakan oleh kuatnya pengaruh kelompok sebaya disebabkan remaja lebih banyak diluar rumah bersama teman sebaya sebagai kelompok. Pengelompokan sosial Remaja  Teman dekat, yaitu remaja yang mempunyai dua atau tiga teman akrab, jenis kelamin sama mempunyai minat dan kemauan yang sama saling mempengaruhi dan kadang-kadang bertengkar.  Kelompok kecil, terdiri dari dua kelompok teman dekat bisa sejenis bisa berlawanan jenis dan saling mempengaruhi.  Kelompok besar terdiri dari beberapa kelompok kecil antar anggota terdapat interaksi sosial yang longgar.  Kelompok terorganisasi, kelompok yang dibentuk oleh sekolah atau organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak mempunyai klik atau kelompok besar.  Kelompok Geng, remaja yang tidak puas terhadap kelompok besar dan minat utamanya untuk menghadapi penolakan melalui perilaku anti sosial. Kondisi-kondisi yang menyebabkan remaja diterima atau ditolak oleh kelompok besar. Diterima Kelompok  Kesan pertama yang menyenangkan sebagai akibat yang penampilan yang menarik perhatian, sikap yang tenang dan gembira.  Reputasi sebagai seorang sportif  Penampilan diri yang sesuai dengan penampilan teman sebaya.  Perilaku sosial yang ditandai dengan kerja sama tanggung jawab, panjang akal, bijaksana dan sopan.  Matang dalam pengendalian emosi serta mau mengikuti aturan kelompok. Sifat keperibadian yang menimbulkan penyesuaian sosial yang baik seperti jujur, setia, dan tidak egois.  Status sosial ekonomi yang seimbang atau sedikit diatas anggota yang lain dan mau berhubungan baik dengan anggota keluarga teman kelompok.  Tempat tinggal yang dekat atau mau berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Kondisi-kondisi yang menyebabkan remaja ditolak oleh kelompok  Kesan pertama yang kurang menarik atau sikap menjauhkan diri.  Licik, tidak sportif.  Penampilan yang tidak sesuai dengan standart kelompok.  Perilaku sosial yang menojolkan diri, menggangu dan menggertak orang lain, senang memerintah, tidak dapat berkerja sama dan kurang bijaksana.  Sifat keperibadian yang menggangu orang lain seperti mementingkan diri sendiri, keras kepala dan mudah marah.  Status sosial ekonomi berada dibawah status sosial ekonomi kelompok dan hubungan buruk dengan anggota kelompok.  Tempat tinggal terpencil atau tidak mau berpartisifasi dalam kegiatan kelompok Minat-minat sosial remaja  Rekreasi  Pesta  Coba-coba minuman keras, obat terlarang dan seks  Percakapan/curhat  Menolong orang lain  Mengamati/mengkomentari peristiwa dunia  Kritik dan pembaharuan. Minat pendidikan Minat remaja terhadap pendidikan dipengaruhi oleh minat terhadap suatu pekerjaan. Ada tiga macam remaja yang tidak berminat terhadap pendidikan : Pertama, Remaja yang orang tuanya mempunyai cita-cita tinggi tetapi tidak realistis terhadap prestasi akademik anak. Kedua, Remaja yang kurang diterima oleh teman sekelas sehingga tidak pernah mengalami kegembiraan. Ketiga, Remaja yang fisiknya matang lebih awal dan penampilannya lebih tua dari usia yang sesungguhnya dan dituntut berpartisifasi lebih terhadap teman yang lain. Minat Agama Remaja menyelidiki agama sebagai sumber dari rangsangan emosional dan intelektual. Pola perubahan minat terhadap agama mengalami tiga periode :  Periode kesadaran religius  Periode Keraguan religius  Periode rekonstruksi agama Minat seks dan perilaku seks. Karena meningkatnya minat seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks dari orang lain, hanya sedikit yang berharap bahwa seluk beluk tentang seks dapat diperoleh dari orang tuanya. Telah tentang apa yang ingin diketahui tentang seks menunjukkan bahwa perempuan sangat ingin tahu tentang keluarga berencana, pengguguran dan kehamilan sedangkan laki-laki ingin tahu tentang kenikmatan seks, hubungan seks, penyakit kelamin dan keluarga berencana Hubungan Keluarga Masalah penting hubungan keluarga adalah apa yang disebut dengan kesenjangan generasi antara remaja dengan orang tua mereka. Kesenjangan generasi yang paling menonjol terjadi dibidang norma-norma sosial. Sebab-sebab umum pertentangan dengan keluarga adalah ;  standart perilaku, Remaja sering menganggap standart perilaku orang tua itu kuno dan harus menyesuaikan dengan stndart modern.  Metode disiplin, kalau metode disiplin yang digunakan orang tua dianggap tidak ada atau kekanak-kanakan maka remaja akan berontak  Hubungan dengan saudara kandung  Merasa jadi korban, remaja sering benci kalau status ekonomi keluarga tidak memungkinkan mempunyai simbol status ekonomi sama dengan teman-temannya.  Sikap yang sangat kritis, anggota keluarga tidak menyukai sikap remaja yang terlampau kritis.  Besarnya kelurga, Pada umumnya sedang dengan anak 3-4 lebih sering terjadi pertentangan dibanding dengan keluarga kecil atau keluarga besar.  Perilaku yang kurang matang, orang tua memperlakukan remaja seperti masih pada saat anak-anak.  Memberontak terhadap sanak keluarga  Masalah palang pintu, Melanggar norma yang dianut oleh keluarga terutama dalam berhubungan dengan lawan jenis. Perubahan Moral Perubahan fundamental dalam perubahan moral remaja  Pandangan moral individu makin lama menjadi lebih abstrak dan kurang kongkrit  Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada saat yang salah.  Penilaian moral menjadi kurang egosentris  Penilaian moral menjadi bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis. Bila tugas perkembangan pada remaja gagal  Terjadi kekacauan identitas  Kepribadian rapuh/ terpecah  Merasa tidak mampu melakukan pekerjaan  Kebimbangan biseksual  Kebimbangan otoritas  Kebimbagan nilai tidak memiliki sikap dan perspektif ASUHAN KEPERAWATAN PADA REMAJA I. Pengkajian  Difokuskan pada ;  Status kesehatan sekarang dan masa lalu  Pola persepsi pemeliharaan kesehatan  Pola aktivitas dan latihan  Pola nutrisi  Pola eliminasi  Pola istirahat  Pola kognitif persepsual  Pola toleransi stress/koping  Pola seksualitas dan reproduksi  Pola peran dan hubungan  Pola nilai dan kenyakinan  Penampilan umum  Perilaku selama wawancara  Pola komunikasi  Kemampuan interaksi II. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul  Koping individu tidak efektif  Perilaku distruktif  Depresi  Nutrisi kurang/lebih  Resiko terjadi cedera  Resiko terjadi penyimpangan seksual  Kurang perawatan diri  Distress spritual  Resio penyalahgunaan obat  Potensial peningkatan kebugaran fisik  Potensial peningkatan aktualitasi diri III. Perencanaan 1. Kecenderungan merusak : Kaji tingkat kejadian merusak yang dilakukan oleh remaja  Diskusikan tentang kejadian resiko, kecenderungan merusak  Diskusikan konsekuensi fisik jika melakukan pengrusakan  Bantu penggunaan strategi untuk berkata “tidak” untuk melakukan perusakan 2. Kecelakaan  Jelaskan perlunya pembelajaran mengendarai motor dengan benar  Jelaskan kemungkinan terjadinya kecacatan akibat kecelakaan  Diskusikan hubungan pengaruh obat dan alkohol dengan terjadinya kecelakaan 3. Bunuh diri  Bantu guru dan care giver untuk mengidentifikasi faktor resiko dan data identifikasi bunuh diri  Bantu untuk meminta bantuan pada psikiatri 4. Nutrisi  Diskusikan kebiasaan makan  Diskusikan makanan yang berbahaya  Bantu untuk mencari alternatif yang mengalami kegemukan atau kekurusan 5. Pendidikan seks  Berikan penjelasan tentang perkembangan fisik dan psiko seksual pada remaja  Diskusikan hubungan seksual dengan PMS  Bantu untuk berkata “NO” pada hubungan seks pra nikah.

Askep Abortus

A. PENGERTIAN Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang dari 28 minggu (IKPK dan KB, 1992). Abortus atau keguguran dibagi menjadi 1. Berdasarkan kejadiannya a. Abortus spontan terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri b. Abortus buatan sengaja dilakukan sehingga kehamilan diakhiri. Upaya menghilangkan konsepsi dapat dilakukan berdasarkan : • Indikasi medis Yaitu menghilangkan kehamilan atas indikasi untuk menyelamatkan jiwa ibu. Indikasi tersebut diantaranya adalah penyakit jantung, ginjal, atau penyakit hati berat dengan pemeriksaan ultrasonografi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim. • Indikasi social Pengguguran kandungan dilakukan atas dasar aspek social, menginginkan jenis kelamin tertentu, tidak ingin punya anak, jarak kehamilan terlalu pendek, belum siap untuk hamil dan kehamilan yang tidak diinginkan. 2. Berdasarkan pelaksanaanya • Abortus buatan teraupetik. Dilakukan oleh tenaga medis secara legalitas berdasarkan indikasi medis • Abortus buatan illegal yang dilakukan tanpa dasar hokum atau melawan hokum (Abortus Kriminalis). 3. Berdasarkan gambaran klinis • Keguguran lengkap (abortus kompletus), semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya. • Keguguran tidak lengkap (abortus inkompletus), sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyulit. • Keguguran mengancam (abortus imminen), abortus ini baru dan masih ada harapan untuk dipertahankan. • Keguguran tak terhalangi (abortus insipien), abortus ini suadah berlangsung dan tidak dapat dicegah atau dihalangi lagi. • Keguguran habitualis, abortus yang telah berulang dan berturut-turut terjadi sekurang-kurangnya 3 kali. • Keguguran dengan infeksi (abortus infeksiousus), keguguran yang disertai infeksi sebagian besar dalam bentuk tidak lengkap dan dilakukan dengan cara kurang legeartis. • Missed abortion, keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22, tetapi tertahan dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati. B. ETIOLOGI Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor yang berpengaruh adalah : a. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi, kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena : 1. Faktor kromosom terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks 2. Faktor lingkungan endometrium terjadi karena endometrium belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.selain itu juga karena gizi ibu yang kurang karena anemia atau terlalu pendeknya jarak kehamilan. 3. Pengaruh luar • Infeksi endometrium • Hasil konsepsi yang dipengaruhi oleh obat dan radiasi • Faktor psikologis • Kebiasaan ibu (merokok, alcohol, kecanduan obat) b. Kelainan plasenta 1. Infeksi pada plasenta 2. Gangguan pembuluh darah 3. Hipertensi c. Penyakit ibu 1. Penyakit infeksi seperti tifus abdominalis, malaria, pneumonia dan sifilis 2. Anemia 3. Penyakit menahun seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, DM 4. Kelainan rahim C. PATOFISIOLOGI Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta, yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal, yang menyebabkan berbagai penyulit. Oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi. Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya : 1. Sedikit-sedikit dan berlangsung lama 2. Sekaligus dalam jumlah besar dapat disertai gumpalan 3. Akibat perdarahan, dapat menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah ujung (akral) dingin. DOWNLOAD Pathway Abortus Klik DISINI D. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada abortus Imminen : 1. Terdapat keterlambatan dating bulan 2. Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules 3. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi kontraksi otot rahim 4. Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim 5. Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif Tanda dan gejala pada abortus Insipien : 1. Perdarahan lebih banyak 2. Perut mules atau sakit lebih hebat 3. Pada pemariksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan jaringan atau hasil konsepsi dapat diraba Tanda dan gejala abortus Inkomplit : 1. a. Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis 2. b. Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat 3. c. Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi 4. d. Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma) Tanda dan gejala abortus Kompletus : 1. Uterus telah mengecil 2. Perdarahan sedikit 3. Canalis servikalis telah tertutup Tanda dan gejala Missed Abortion : 1. Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorbsi air ketuban dan maserasi janin 2. Buah dada mengecil kembali E. DIAGNOSA DAN INTERVENSI Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah : 1. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang abortus Tujuan : kecemasan ibu berkurang Tindakan : • Lakukan komunikasi terapetik dengan pasien • Berikan informasi tentang abortus • Yakinkan pasien tentang diagnosa 2. Resiko infeksi berhubungan dengan pendarahan pervaginam Tujuan : infeksi dapat dicegah Tindakan : • Observasi perdarahan • Observasi TTV • Lakukan tindakan sesuai prosedur aseptic • Kolaborasi pemberian obat antibiotik 3. Gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus, perubahan dinding endometrium dan jalan lahir Tujuan : nyeri berkurang Tindakan : • Kaji skala nyeri • Anjurkan pasien untuk bedrest total • Berikan pasien posisi yang nyaman • Kolaborasi pemberian obat analgetik 4. Resiko syok hipofolemik berhubungan dengan perdarahan pervaginam Tujuan : syok dapat dicegah Tindakan : Observasi perdarahanObservasi TTV Anjurkan pasien untuk bedrest total Kolaborasi pemberian obat anti koagulan 5. Berduka berhubungan dengan kehilangan Tujuan : pasien dan keluarga tabah menghadapi kenyataan kehilangan Tindakan : Beri dorongan klien dan keluarga untuk dapat menerima keadaan Memotivasi pasien dan keluarga untuk tabah dan sabar Bila berlebihan kolaborasi untuk konsultasi dengan psikolog tag : askep abortus, asuhan keperawatan abortus, pathway abortus, abortus kompletus, abortus inkompletus, abortus imminen, abortus insipien, abortus infeksiousus, Missed abortion

Depresi

Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Depresi termasuk dalam gangguan “mood”. gejalana Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. faktor penyebabna Penyebab suatu kondisi depresi meliputi: 1. Faktor Organobiologis: Teori monoamin menunjukkan penyebab depresi yaitu terganggunya keseimbangan antara neurotransmitter di otak. Khususnya akibat terutama kekurangan serotonin (=5HT) dan/atau noradrenalin di saraf-saraf otak. 2. Faktor psikologis karena tekanan beban psikis, dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial. 3. Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, paska bencana, dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya. gejalana Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika lima (atau lebih) gejala di bawah ini telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus : (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis). Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan) Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat) Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain) Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri klasifikasina Menurut klasifikasi DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual ), depresi terbagi menjadi tiga, yakni: 1. Gangguan Distimia (Depresi Mania/Depresi Manis) 2. Depresi Mayor (Depresi Klinis) 3. Depresi yang tidak terklasifikasi distimia Distimia (dysthymia disorder) juga dikenal dengan sebutan neorosis depresi, distimik depresi atau depresi kronis. Distimia merupakan bentuk dari gangguan mood yang sifatnya menetap. Bentuk depresi ini tidak terlalu parah dibandingkan dengan depresi berat, kriteria gangguan sifatnya ringan atau sangat jarang terlalu parah, relasi antara normal dan depresi ringan yang terus berulang berlangsung bertahun-tahun atau bahkan menetap. Penderita distimia lebih banyak wanita dibandingkan pria, diperkirakan sekitar 5% populasi mengidap gangguan ini. Episode Mania -Hipomania Gangguan lebih ringan dari mania, afeksi yang meninggi atau berubah disertai dengan peningkatan aktivitas menetap dan memberi pengaruh nyata terhadap pekerjaannya dalam beberapa hari berturut-turut atau menetap melebihi siklotimia. -Mania Episode ini berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu. Pada episode ini terjadi perubahan afeksi dan peningkatan energi berlebihan sehingga mengacaukan seluruh atau hampir keseluruhan pekerjaannya atau aktivitas sosial yang sering dilakukan individu. Pada tahap ini mulai terjadi kesulitan dalam tidur, percepatan psikomotorik, bicara terlalu banyak, terlalu optimistik -Mania dengan gejala psikotik Secara klinis terdiri dari gejala berat daripada mania, timbulnya gagasan waham dan halusinasi sesuai dengan afek tersebut. Harga diri membumbung dan ditandai dengan kemunculan waham kebesaran (delusion of persecution) waham Menurut Gail W. Stuart, Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas sosial. Waham adalah Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan. depresi mayor (depresi klinik) Adalah keadaan perasaan sedih, melankolis, atau murung yang berlanjut hingga mengganggu fungsi sosial dan kehidupan sehari-hari pasien. Keadaan murung atau perasaan sedih yang dialami seseorang namun tidak mengganggu fungsi sosial seseorang seringkali juga dianggap sebagai depresi. Namun, keadaan depresi klinik ini adalah suatu diagnosis medis yang mempunyai makna yang berbeda dengan pengertian “depresi atau keadaan tertekan” seperti yang dikenal oleh masyarakat sehari-hari. ANTIDEPRESI Antidepresi atau obat antimurung adalah obat-obat yang mampu memperbaiki suasana jiwa (“mood”) dengan menghilangkan atau meringankan gejala keadaan murung. Antidepresi bekerja dengan cara yang berbeda-beda: 1.Menghilangkan depresi, memperbaiki mood 2.Mengaktifkan psikomotorik (menaikkan aktivitas) dan/atau 3.Menekan psikomotorik (mengurangi aktivitas) SEROTONIN (=5HT) Serotonin atau 5-hidroksitroptamin berfungsi sebagai neurotransmitter pada komunikasi antara neuron-neuron otak. Serotonin berkhasiat memperbaiki suasana jiwa, menghambat nafsu makan, juga meningkatkan rasa kantuk dan ambang nyeri, hingga rasa sakit lebih mudah diatasi. SEROTONIN Serotonin disintesis dari prekursornya triptofan dengan bantuan enzim triptofan hidroksilase dan asam amino aromatik dekarboksilase. Serotonin yang terbentuk akan disimpan di dalam vesikel penyimpanan prasinaptik dengan bantuan transporter monoamine vesicular (VMAT = vesicular monoamine transporter). Selanjutnya, jika ada picuan maka serotonin akan dilepaskan menuju celah sinaptik. Serotonin yang terlepas dapat mengalami beberapa peristiwa antara lain: SEROTONIN 1.Berdifusi menjauh dari sinaps 2.Dimetabolisme oleh MAO (monoamine oksidase) 3.Mengaktivasi reseptor presinaptik (reseptor 5-HT1A dan 5-HT1D, suatu autoreseptor 4.Mengaktivasireseptor post-sinaptik 5.Mengalami re-uptake dengan bantuan transporter serotonin presinaptik (SERT = serotonin transporter). OBAT-OBAT ANTIDEPRESAN 1.Antidepresan Trisiklik (TCA) 2.Penyekat monoamin oksidase (MAOI) 3.Penyekat ambilan kembali serotonin selektif (SSRI) ANTIDEPRESI TRISIKLIK Mekanisme Kerja: 1.Menghambat ambilan neurotransmitter 2.Penghambatan reseptor Contoh Obat: Imipramin, desipramin, trimipramin, amitriptilin, amoksapin, doksepin, maprotilin, nortriptilin, protiptilin. IMIPRAMIN -Merupakan antidepresi yang pertama (1958). -Menghambat re-uptake dari NA dan 5HT, lagipula berkhasiat antiadrenergis, antikolinergis dan antihistamin agak kuat. -Digunakan pada depresi dengan ciri-ciri vital, pada gangguan panik dan ngompol malam pada anak-anak di atas 5 tahun. Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRI) -SSRI merupakan grup kimia antidepresan baru yang khas, hanya menghambat ambilan serotonin secara spesifik. -SSRI menyebabkan efek antikolinergik lebih kecil dan kordiotoksisitas lebih rendah. -Contoh obat SSRI diantaranya: fluoksetin, fluvoksamin, nefazodon, paroksetin, sertralin, trazodon, venlafaksin. Monoamin Oksidase Inhibitor (MAOI) -MAO berfungsi me-nonaktifkan setiap molekul neurotransmitter (norepineprin, dopamin, dan serotonin) yang berlebih dan bocor keluar vesikel sinaptik ketika neuron istirahat. -MAOI menghambat monoamin oksidase (MAO) dalam otak dan di seluruh tubuh. Dengan menghambat MAO di dalam otak, makin sedikit norefinefrin yang dimetabolisme sehingga meningkatkan ketersediaannya dalam sinaps. Obat-Obat MAOI 1.Isokarboksazid 2.Fenelzin 3.Tanilsipromin MAOI adalah antidepresan yang sangat efektif dan obat antipanik yang jarang digunakan serta sangat ditakuti penggunaannya karena dapat menyebabkan krisis hiperteni jika mengonsumsi makanan yang mengandung tiramin dan obat-obat tertentu bersamaan dengan obat ini, penyuluhan kesehatan yang cermat pada pasien yang rentan sangat penting dilakukan. Efek Samping MAOI Reaksi yang merugikan dan pertimbangan keperawatan. Efek samping MAOI mencakup pusing, konstipasi, disfungsi seksual, kedutan otot, mengantuk, mulut kering, retensi cairan, insomnia, kesulitan memulai berkemih, dan peningkatan berat badan.

Vitamin

Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita. Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air : - Vitamin yang larut di dalam air : Vitamin B dan Vitamin C - Vitamin yang tidak larut di dalam air : Vitamin A, D, E, dan K atau disingkat Vitamin ADEK. 1. Vitamin A - sumber vitamin A = susu, ikan, sayuran berwarna hijau dan kuning, hati, buah-buahan warna merah dan kuning (cabe merah, wortel, pisang, pepaya, dan lain-lain) - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin A = rabun senja, katarak, infeksi saluran pernapasan, menurunnya daya tahan tubuh, kulit yang tidak sehat, dan lain-lain. 2. Vitamin B1 - sumber yang mengandung vitamin B1 = gandum, daging, susu, kacang hijau, ragi, beras, telur, dan sebagainya - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B1 = kulit kering/kusik/busik, kulit bersisik, daya tahan tubuh berkurang. 3. Vitamin B2 - sumber yang mengandung vitamin B2 = sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, susu, dan banyak lagi lainnya. - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B2 = turunnya daya tahan tubuh, kilit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, sariawan, dan sebagainya. 4. Vitamin B3 - sumber yang mengandung vitamin B3 = buah-buahan, gandum, ragi, hati, ikan, ginjal, kentang manis, daging unggas dan sebagainya - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B3 = terganggunya sistem pencernaan, otot mudah keram dan kejang, insomnia, bedan lemas, mudah muntah dan mual-mual, dan lain-lain 5. Vitamin B5 - sumber yang mengandung vitamin B5 = daging, susu, sayur mayur hijau, ginjal, hati, kacang ijo, dan banyak lagi yang lain. - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B5 = otot mudah menjadi kram, sulit tidur, kulit pecah-pecah dan bersisik, dan lain-lain 6. Vitamin B6 - sumber yang mengandung vitamin B6 = kacang-kacangan, jagung, beras, hati, ikan, beras tumbuk, ragi, daging, dan lain-lain. - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B6 = pelagra alias kulit pecah-pecah, keram pada otot, insomnia atau sulit tidur, dan banyak lagi lainnya. 7. Vitamin B12 - sumber yang mengandung vitamin B12 = telur, hati, daging, dan lainnya - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B12 = kurang darah atau anemia, gampang capek/lelah/lesu/lemes/lemas, penyakit pada kulit, dan sebagainya 8. Vitamin C - sumber yang mengandung vitamin C = jambu klutuk atau jambu batu, jeruk, tomat, nanas, sayur segar, dan lain sebagainya - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin C = mudah infeksi pada luka, gusi berdarah, rasa nyeri pada persendian, dan lain-lain 9. Vitamin D - sumber yang mengandung vitamin D = minyak ikan, susu, telur, keju, dan lain-lain - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin D = gigi akan lebih mudah rusak, otok bisa mengalami kejang-kejang, pertumbuhan tulang tidak normal yang biasanya betis kaki akan membentuk huruf O atau X. 10. Vitamin E - sumber yang mengandung vitamin E = ikan, ayam, kuning telur, kecambah, ragi, minyak tumbuh-tumbuhan, havermut, dsb - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin E = bisa mandul baik pria maupun wanita, gangguan syaraf dan otot, dll 11. Vitamin K - sumber yang mengandung vitamin K = susu, kuning telur, sayuran segar, dkk - Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin K = darah sulit membeku bila terluka/berdarah/luka/pendarahan, pendarahan di dalam tubuh, dan sebagainya